(endonesaan dulu lah yah!)
Tempat lain selalu menawarkan hal yang berbeda, dan kali itu gua dan teman-teman gua (dinar dan tari) tergoda untuk ke Solo untuk belanja kain khas sana yang murah dengan menggunakan kereta pagi. Perjalanan itu termasuk mendadak dan direncanakan singkat. Dan seperti biasa gua tidak bilang sama orang tua hehehehe… Gimana yah? Emang sih pasti orang-orang bakal bilang bahwa itu ga baik, dan perjalanan itu harus selalu di restui, dan nanti kalo ada apa-apa gimana dan lain-lain, tapi bagi seorang perempuan, yang namanya ‘perjalanan’ itu tidak mudah. Jarang banget ada perempuan yang bakal dikasih jalan ama ortunya dengan keadaan yang seadaanya. So… I disobeye to get to somewhere. Don’t we all?
Gua berangkat dari rumah jam 5 lewat seperempat dan menggunakan angkutan umum. Adik gua yang emang ga tau diri, males nganterin kakaknya ke kircon karena … males. Sebelum berangkat dari rumah, gua sudah meng-sms anak-anak untuk naik dan tempatin satu tempat duduk untuk gua. Takutnya penuh nanti malah harus ngampar. Gua volunteer untuk membeli tiket sendiri supaya ga usah bayar peron nantinya. Berangkatlah gua dalam keadaan langit yang masih gelap. Wah… antusias berat pagi itu. Bener-bener melakukan perjalanan dari mulai terbitnya matahari. Seperti film-film koboi atau film pertapaan yang berangkat subuh. Karena gua pengangguran gua ampe lupa kalau berangkat pagi itu sebenarnya enak banget karena seger dan angkot masuk ke mode turbo.
Hadirlah gua pagi itu di stasiun kereta Kiara condong jam mendekati 6.20. Gua emang udah janjian sama anak-anak akan bertemu di stasiun tersebut untuk naik kerete yang diperkirakan berangkat jam 7 itu. Asumsi biasa emang salah sih, dan memang, keretanya berangkat tepat jam 6.20. Gua langsung masuk ke stasiun karena petugas tiket tidak ada di loketnya. Gua menghampiri beberapa masinis dan menanyakan kemanakah kereta yang sedang bersiap-siap dan dimana gua bisa membeli tiket ke Jogja. Para masinis mengatakan lebih baik menaikki kereta dan membeli karcis di atas kereta ekonomi tersebut. Ngomong-ngomong harga tiketnya sekitar 28.000 rupiah saja. Tidak ada tanda dari anak-anak jadi naiklah gua dengan ASUMSI anak-anak ada di kereta. Gua memilih untuk duduk dulu biar tenang di gerbong paling belakang. Beberapa menit kemudian kereta bergerak.
Sejalannya kereta, gua mulai mencari teman-teman gua di gebong-gerbong yang agak padat.
“Neng, udah punya tiket?” kata masinis.
“Belum,” kataku.
“Oh, di gerbong paling belakang aja duduknya,” kata masinis.
“Saya mau cari teman, pak!” jelas gua.
“Ooohh, teman mah banyak, bisa dicari. Tadi bapak liat ada cewek duduk sendiri.” kata si masinis dengan PD.
“Maksud saya, saya mau cari teman saya, pa,” kata saya membetulkan maksud awal.
“Oh, sok mangga atuh” dan masinis itu akhirnya mempersilahkan saya untuk melanjutkan pencarian. Dua kali gua bolak -balik meyakinkan gua bahwa MEREKA TIDAK ADA DI KERETA. Jadi gua duduk saja sambil melihat keluar jendela. Setengah panik dan setengah panik, gua duduk saja memikirkan apa yang mesti gua lakukan. Seorang cowok mencoba mengajak gua ngombrol, tapi lihat gelagatnya gua memilih tidur.
Jogja, Garut, Tasik, Clacap, adalah beberapa kota yang sempat terlintas di otak gua untuk disinggahi. Rencananya kalaupun gua memilih kota, gua bakal berada disana seharian baru balik ke Bandung hari itu juga. Sesampainya di Nagreg, dinar menelpun dan semakin menyakinkan gua kalau gua melakukan perjalanan ini sendiri. Ternyata dia dan tari menunggu gua di gerbang depan, sedangkan gua masuk melalui gerbang belakang stasiun Kircon.
Yah… mungkin gua emang chicken shit, mungkin perasaan ga enak, tapi gua memutuskan untuk turun sesuai dengan anjuran dinar. Turunlah gua stasiun Nagreg. Plengak-plengok gua selama beberapa lama, sampai akhirnya gua memutuskan untuk pulang pake elep atau bus yang lewat. Mungkin gua terlalu lama tinggal di kota, mungkin gua udah terlalu lama ga maen, tapi yang jelas gua sampe lupa betapa ramahnya orang-orang yang tidak tinggal di kota besar. Ada bagian yang merasa cukup aman di kota orang. Kepanikan yang tadinya ada di kereta jadi ilang. Yah… dengan sabar tapi kebingungan juga, gua menunggu elep atau bus untuk lewat. Beberapa kali gua ditolak elep, dan gua berpikir jangan-jangan mereka ga meuju Bandung. Jangan-jangan gua tampangnya kayak gembel berat atau jangan-jangan gua bau badan. Tapi semua dugaan itu salah karena gua akhirnya kebagian bus AC dari Tasik menuju Bandung. Gila, bahkan panorama perjalanan yang berdurasi sekitar sejam lebih itu ternyata keren. Melihat pegunungan Jawa Barat pada pagi hari, keadaan kebun teh, dan selentingan gosip Annisa-siapalah itu-yang bakal menikah dengan anak presiden dari tv dalam bus emang asik banget. Serba nyaman sampai di Cicaheum. Diakhir perjalanan keneknya merelakan gua membayar hanya 2000 perak saja. Lumayan! Dan kembalilah gua naik angkot ke Caladi.
Mungkin catatan pertama gua tentang sebuah perjalanan ga akan terlalu berkesan bagi pembaca sekalian. Ga jauh, ga bereksplorasi, ga memberikan info, tapi catatan ini mengawali bagian pertualang gua dalam blog ini dan juga untuk petualangan gua berikutnya. Yang harus selalu gua ingat adalah mengalami dan melihat hal baru akan selalu menyegarkan hidup kita. Itu membuat hidup kita semakin enak untuk diteruskan hehehehe…. ya ‘kan?